The Day I Lost You...(part 2)

 Dear Readers...


Selagi aku menulis ini, kenangan akan kamu terus bermunculan. Setiap kegilaan yang kita lakukan sebagai anak remaja, "You're My Partner in Crime", begitulah kita. Tak pernah sekalipun bertengkar. Kamu seolah tahu kapan harus mengalah dan tahu kapan harus membujukku untuk mengalah. 

Banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan tentang masa kecil kita hingga remaja. Misalnya saat tiba-tiba saja kamu merajuk dan tiduran di tengah jalan raya besar ketika aku, kamu, dan para sepupu baru saja bermain di sebuah TK. Tentu saja semua panik dan inisiatif menggotongmu ke pinggir jalan. Ada juga kenangan saat kamu tiba-tiba menowel kue ulang tahunku tanpa aba-aba. Aku juga teringat kamu pernah jatuh dari kasur bertingkat saking gesit dan nakalnya kamu.

Saat liburan di Malang, kita selalu tidur berdampingan, sambil lagi-lagi bercerita tentang segala hal. Kamu selalu memanjakan aku setiap aku datang. Aku ingat kamu memberikan aku semua kelereng terbaikmu untukku. Kamu menunjukkan koleksi kelereng yang kamu dapatkan dari bermain bersama teman-temanmu. 

Kamu bilang kamu menyimpannya untukku. Motif dan warna kelereng-kelereng itu memang cantik dan lain dari kelereng biasa. Aku bilang tak usah karena aku toh tak bisa main kelereng. Namun, kamu memaksa katamu untuk dilihat-lihat. Akupun menerimanya dan menyimpannya dalam tas hingga aku menikah dan memasukkan kelereng-kelereng tersebut sebagai hiasan aquarium.



Kamu juga anak yang selalu mengalah padaku. Contohnya, saat kita makan sepiring berdua. Kita masih sama-sama SD tapi kamu jauh lebih dewasa dariku. Kita memutuskan makan pakai "mendol" yang diurap campur dengan nasi. Aku lebih suka seperti itu, sementara kamu lebih suka jika ditambah kecap. Aku tak mau dan bilang tak akan makan sepiring berdua. Kamu pun mengalah, lebih mengikuti keinginanku. Sampai nambah 2x pun kamu tidak memaksa menambah kecap. Pada akhirnya, aku mengalah juga karena melihatmu makan begitu lucu dan menyenangkan. Kita menambahkan kecap dan makan kembali bersama. Ah... sampai sekarang pun aku jadi suka makan mendol dicampur kecap karenamu kala itu..

Kamu memang selalu ingin menyenangkanku. Kadang kamu tiba-tiba minta uang pada uti lalu membelikanku jajanan. Kadang kamu rela tidak main dengan teman-temanmu karena ada aku datang liburan. Kadang kamu juga menemaniku berjalan-jalan dan hujan-hujanan sampai dimarahi uti bersama-sama. Begitu banyak sederet kenangan lain yang jika ditulis mungkin bisa jadi satu buku yang tebalnya melebihi tebal skripsimu kala itu.

Ketika kamu lulus dari SMP, uti dan akung mulai melepasmu. Mama dan ayah yang kala itu sudah menikah selama kurang lebih 9 tahun dengan senang hati menerimamu. Kita mulai mencari SMA yang sesuai untukmu. Aku senang karena akhirnya kita kembali bersama. Kamu akan tinggal serumah denganku lagi. Aku kuliah semester 3 kala itu, dan aku ngekost karena ada jam kuliah malam yang bikin malas pulang ke rumah karena terlalu jauh. Meski begitu, aku senang karena tiap aku libur aku bisa bersamamu.



Akhirnya kamu masuk salah satu SMK di Pasuruan. Aku sempat khawatir kamu tak bisa menyesuaikan diri. Tapi aku lupa, kalau kamu adalah anak yang ramah dan pandai bergaul. Bahkan di perumahan tempat kita tinggal saja, baru seminggu kamu datang sudah banyak yang mengenalmu dari orangtua hingga anak-anak. Aku yang sudah bertahun-tahun tinggal di perumahan saja kadang masih ada yang tak mengenaliku. 

Di rumah, kamu dikenal sebagai anak yang manis dan manja. Bangun pagi langsung mencari mama, memeluknya dan minta cium. Kamu juga selalu datang ke kamarku dan dengan konyolnya bilang, "Mbak Tata, aku men-dayo". Selanjutnya, kita kadang hanya tiduran diam sambil memainkan handphone, atau kadang ngemil bersama, kadang juga nonton film atau anime di laptop. Kadang aku juga ke kamarmu dan menirumu mengatakan, " Adek Ama, aku men-dayo". dan kamu dengan senang hati menyambutku dengan sederet camilan yang kamu beli di bis selama pulang sekolah.



Selama SMK pun, kisah konyol tentangmu juga tidak ada habisnya. Ada kalanya kamu ketiduran di bis waktu pulang sekolah hingga nyasar ke kota sebelah. Ada kalanya kamu minum teh diet tanpa tahu itu teh diet dan dengan PD-nya kamu bilang tiap malam kamu minum teh itu di dapur. Saat diberi tahu itu teh diet kamu langsung syok karena tubuhmu sendiri sudah sangat tipis tanpa teh diet. 

Kita juga pernah mencoba kabur saat tarawih. Di kala adzan dan kita dengar imam A yang mengumandangkan adzan, kita langsung merencanakan untuk kabur. Bukan apa-apa sih, imam yang satu itu memang dikenal kurang keras suaranya dan juga selalu lama. Saat berangkat ke mushola, kita udah kode-kodean mo kabur setengah perjalanan. Sayangnya saat tarawih, mama malah ada di belakangku, dan kulihat ke dalam lewat jendela kaca, rupanya ayah juga ada di belakangmu. Alhasil rencana kabur kita gagal total hahaha... Allah tidak meridhoi kita untuk berbuat nakal..



Ada satu kenangan yang tidak pernah aku lupa. Waktu itu kita iseng nonton bioskop di Pasuruan. Kita berdua saja, naik kendaraan umum, lalu sedikit berjalan karena bioskop tak jauh dari terminal. Kita bergandengan tangan, karena memang begitulah kebiasaan kita dari kecil hingga besar, selalu bergandengan tangan. Orang yang melihat kita pun salah sangka, sampai tukang becak sempat nyeletuk karena dikira kita pacaran karena bergandeng tangan. Jangankan tukang becak, bapak dan ibu kos pun mengira kamu pacarku gara-gara di meja kamar kosku penuh dengan fotomu.

Sampai di bioskop, kita memilih film yang berbeda. Dan dengan ngakaknya, kita masuk ke ruang berbeda. Sesekali berkirim SMS dan bercerita tentang betapa awkward-nya nonton sendirian di tengah banyak pasangan muda mudi. Film kelar, kita pun kembali pulang, bergandengan tangan dan saling menceritakan film yang kita tonton.

Kamu hobi bermain badminton. Bahkan kemampuanmu juga diakui. Kamu kerap ikut para bapak-bapak main mewakili perusahaan atau komunitas mereka. Pergaulanmu juga bagus, teman-temanmu baik dan kamu tidak pernah bikin onar. Satu-satunya yang disebelin mama dari kamu adalah terlalu suka main game. Kamu bahkan sering dimarahi kalau sudah kelupaan main game di warnet.

Saat aku semester 5, aku mulai kerja di banyak tempat. Aku bekerja di bimbel, mulai jadi freelance writer, dan juga bekerja di sebuah SMA dekat rumah. Kamulah yang selalu setia mengantar jemputku dengan sepeda motor karena aku tak bisa naik motor. Panas hujan kamu terjang demi menjemput dan mengantarku saat kamu ada waktu. Pernah sekali, kamu pulang sekolah, masih dengan seragam pramuka SMK, dengan wajah kucel dan topi yang kamu balik, kamu menjemputku. Dan itu bikin murid-muridku heboh, katanya kamu ganteng dan mereka minta dikenalin. Batinku, "lah,,,dia kucel gini dibilang ganteng darimana?" hahaha...

Sampai akhirnya kita harus berpisah lagi, karena aku menikah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar