The Day I Lost You...(part 1)

 Dear Readers...


" You Left Without Warning, Gone So Fast...

Now All We Have are Memories...of our Past.."

Aku tidak pernah mengira akan menulis ini di sini. Keinginan itu muncul begitu saja. Harapanku simpel saja, ingin melepas sedikit gundah di hati. Selain itu juga ingin berbagi tentang rasa saat kehilangan orang terdekat. Berat rasanya menulis setiap kata dan merangkainya, namun kupaksakan juga...

Aku tidak tahu sebaiknya memulai dari mana. Mungkin memulainya dari saat hari kelahiranmu tiba. Aku masih ingat jelas kala itu, aku yang masih TK bersama papa dan uti menunggumu lahir di Rumah Sakit. Kala itu ada drama juga menjelang kelahiranmu. Suster keluar dan mengumumkan bahwa anak dari Ny Indra berjenis kelamin perempuan. Seketika itu juga, aku kegirangan. Aku membayangkan akan banyak bermain boneka dengannya. Aku juga sudah merencanakan gaya rambut seperti apa yang akan kulakukan pada rambutnya kelak. Namun, uti membantah pada suster dan ia yakin bahwa anaknya lelaki karena hasil USG menunjukkan bayinya laki-laki.



Kegembiraanku tak berlangsung lama, karena sebentar kemudian, suster kembali mengumumkan bahwa anak dari Ny.Indra berjenis kelamin laki-laki. Uti langsung sumringah dan mengatakan bahwa inilah cucunya. Ternyata, setelah dilakukan pengecekan, suster salah mendaftar nama, mamaku didaftar dua kali sementara pasien di sebelah mamaku belum terdaftar namanya. Dan, ya.. ternyata adikku laki-laki...Dari sejak itu, Ramadhana Jaya Purnawan, kamu adikku yang paling kusayang.

Aku tetap senang juga meski tahu aku tak akan bisa menguncir rambutmu. Paling tidak aku tetap ada teman main, begitulah pikirku...



Hari demi hari berlalu, aku yang dulunya selalu senang mencium pipi merahmu dan selalu ingin membuatmu tersenyum, mulai sedikit kesal kadang-kadang. Karena ya namanya anak laki-laki, gesitnya minta ampun dan nakalnya juga jangan ditanya. Kadang kamu menarik rambutku, kadang memukulku dengan wadah bola tenis Dunlop, kadang juga merebut makananku. Kukira hari-hari bersamamu tidak pernah ada habisnya. Selalu ada tingkah lucu dan mengesalkan darimu..

Namun, hari itu tiba. Hari dimana orangtua kita akhirnya bercerai. Ketika aku disuruh memilih, tentu aku lebih memilih mama. Yang aku tak tahu adalah, kukira kau akan ikut denganku, tapi ternyata uti memintamu. Kita terpisah hari itu, dengan jerit tangismu yang memanggil nama mama....Usiamu baru 3 tahun, namun aku menyesal kamu harus kehilangan aku dan mama. Aku dan mama pergi ke Pasuruan, ke rumah uti dan akung dari mama.



Mama tentu saja ingin mengambilmu. Mama menjemputmu setelah beberapa minggu. Namun, kamu berubah, kamu selalu saja ingat uti. Setiap malam mama tidak tidur karena menggendongmu yang selalu memanggil uti. Beberapa hari kemudian uti datang, menjemputmu dan membawamu kembali ke Malang sementara aku dan mama tetap di Pasuruan. Aku kehilangan kamu lagi. Sepi dan sedih rasanya namun mama menghibur dan mengatakan bahwa kita akan bertemu saat liburan.

Begitulah, setiap liburan aku selalu ke Malang atau kamu yang ke Pasuruan. Dan, saat libur berakhir, aku harus mendengar tangismu yang pilu memanggil nama mama. Bukannya mama tidak pernah memintamu pada uti. Setiap liburan, mama selalu memintamu pada uti agar diperbolehkan membawamu. Tapi, jawaban uti tetap sama, TIDAK BOLEH. 

Kamu pun seolah paham dan saat aku dan mama mengantarmu kembali ke uti, kamu selalu dadah-dadah dengan ceria dan senyum merekah tersungging di bibirmu. Beberapa menit kemudian kamu berlari masuk, mengambil bantal lalu menangis dan menjeritkan nama mama sekeras mungkin ke dalam bantal. Rasa sesak di dalam dada mendengar tangismu..namun kita tidak bisa melakukan apapun...



Kamu adalah sosok yang periang sewaktu kecil. Kamu juga anak yang sopan. Orang mengenalmu sebagai anak yang selalu mengundang gelak tawa. Setiap perkataanmu menyenangkan. Tak heran jika temanmu bejibun. Orang yang baru mengenalmu pun akan langsung menyayangimu karena kamu begitu manis.

Setiap liburan, kita selalu berbagi cerita seru. Kamu menceritakan tentang teman-temanmu dan permainan yang sering kamu lakukan setiap harinya. Aku yang banyak menghabiskan waktu membaca buku selalu menceritakan padamu tentang buku apa yang kubaca. 

Aku ingat suatu kali, aku masih SD kelas 6 dan kamu masih SD entah kelas 2 atau kelas 3. Kala itu di Malang dan aku sedang liburan di sana. Aku sedang getol-getolnya membaca novel R.L Stine. Entah kenapa aku suka sekali semua novel R. L Stine. Saat itu, aku baru selesai membaca novel R.L Stine dengan judul "Daughter of Silence". Ceritanya cukup menengangkan untuk anak seusiaku. Aku sampai merinding dan panas dingin membacanya. Iseng kamu bertanya cerita apa itu karena sampul bukunya cantik dengan gambar dua puteri cantik.



Aku pun dengan isengnya menceritakan cerita yang kubaca padamu. Mulanya kamu hanya diam sambil memainkan mobil-mobilan kesayanganmu. Namun, detik berikutnya, kamu lari ngibrit ke ruang tamu depan sambil berteriak ketakutan, hahaha... kamu merajuk dan memintaku stop menceritakan kisah seram semacam itu.

Saat kamu SMP, pubertas mulai mengubahmu. Kamu jadi sedikit canggung di awalnya. Aku bahkan ingat, kala itu aku dan mama hendak memberimu handphone supaya lebih mudah berkomunikasi. Aku dan mama berniat memberi surprise dengan datang ke sekolahmu. 

Bodohnya kami tidak tahu bahwa sekolahmu amat sangat jauh dari jalan raya. Aku dan mama berjalan jauuuuuuh sekali untuk sampai di sekolahmu. Tiba di sana kami kebingungan mencari kelasmu. Untung ada guru baik hati yang mau mencarikanmu. Kamu tampak kaget, namun mungkin juga sedikit malu karena tiba-tiba ada mama dan kakak yang menjemputmu. Aku bahkan ingat perkataan pertama yang kamu lontarkan kala itu karena kaget campur malu. Kamu bilang, "opo? onok opo kok mrene?" kamu mengatakannya sambil memasukkan pulpen pilot warna biru ke sakumu. 


Suasana langsung canggung karena kami tak mengira sambutanmu dingin. Baru ketika sudah berlalu beberapa menit, kecanggungan mencair. Ketika kami akhirnya memberikan handphone padamu, kamu langsung sumringah. Karena masih di jam sekolah, kami membawa lagi handphone-nya dan memutuskan menunggu kamu sampai pulang sekolah. Aku dan mama menunggumu di ujung jalan raya. Tak disangka tiba-tiba hujan deras, aku dan mama berteduh di sebuah pos keamanan kecil sambil makan pisang goreng yang dijual di dekat situ.

Setelah 3 jam menunggu, akhirnya kamu datang, berjalan kaki. Kamu bilang setiap hari kadang berjalan kaki ke sekolah yang sejauh itu. Handphone kami berikan, mama juga memberimu uang saku. Kamu pulang, aku dan mama juga kembali ke Pasuruan. Sejak itu, komunikasi kita lebih lancar. Meski memang kamu hanya membalas pesan dengan sangat singkat. Kamu hanya membalas "Y", atau "oke" dan balasan super singkat lainnya. Maklum ya anak cowok...



Setiap liburan, kita masih bertemu. Kadang aku yang ke Malang, kadang kamu ke Pasuruan, kadang kita ke Surabaya ke tempat papa. Kita tidak pernah bertengkar karena jarang bertemu, sekalinya bertemu kita akan selalu bertukar cerita seru dan juga tren terbaru dari masing-masing kota. Liburan dua minggu terasa begitu singkat..sampai akhirnya kita harus berpisah..

Jika dipikir-pikir..kita memang selalu terpisahkan..oleh keadaan..dan juga terakhir..oleh maut..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar